Tampilkan postingan dengan label SAJAK Oplosan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK Oplosan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Pada Akhirnya

Entah rerindu apa yang paling menyesakkan dada
Selayak pedang menghunus asa
Melihat tak mampu menyentuh
Deru redam bergantian mengoyak setiap keheningan
Dalam pada nestapa menciut hati sang luka
Engkau lautan dunia penuh angkara
Tempatku berdiri penuh kesombongan
Menegakkan dagu membusungkan dada
Tiada peduli yang lain mengais sisa
Begitu mudah menjatuhkan
Sehingga pagi mengurung duka
Bukankan saat mati kita berada ditempat yang sama?
Ah...manusia.

Jumat, 28 September 2012

Elegi Pagi

Pagi meniupkan bening embun
Merasuk hingga buritan kecubung

Tanah masih basah sisa hujan tadi malam

Rerumput bercerita akarnya semakin rapuh
Tak lagi mampu menampung luapan sungai rindu
Padahal jarak tidaklah membentang
Menuai kesakitan pada kedamaian
Tiap perbuatan pasti ada balasan
Tidak sekarang tapi kelak
Jangan buang gemuruh cinta
Dia datang sebagai penguji iman.


Senin, 06 Agustus 2012

REJAPATI

Suatu hari aku bertanya kepada angin
Dimana aku dapat menemukan bunga laraswarni
Angin berbisik menggelitik kupingku
Di kedalaman sebuah telaga yang dikelilingi rejapati
Aku bertanya kembali
Apakah rejapati itu wahai angin?
Dia adalah sukma yang dibuang tanpa tujuan
Melindungi telaga dari keserakahan manusia
Kepada rejapati lah laraswarni akan kau petik
Winar..jangan lupa bawakan secangkir madu dan darah untuk memberi dia makan
Aku terhenyak..
Sedang darahku telah habis di bukit lontar
Kujadikan tumbal untuk masuk gerbang Majaijo
Winar..tidakkah kau sadari kau adalah rejapati
Bisik angin kepadaku..
Aku limbung.

Jumat, 27 April 2012

APRIL PUTIH

Riuh rendah angin membisik daun mahoni
Senja yang semakin pekat
Setelah menempuh perjalanan panjang
Aku heran
Kenapa malam begitu cepat datang
Secawan rindu sedang begitu meluap
Tak kuasa lagi memilih kenafikan
Perih tak lagi bebas
Telah dirantai dalam pembaringannya
 Awan-awan dilangit memajang panorama
Putih bagai kapas
Aku masih merindunya
Pergilah malam
Sejenak saja
April putih


Pacitan, 27 April 2012


Senin, 26 Maret 2012

Ku Beri Nama Kasih

Hitam penuh misteri
Sehingga putih datang menawar
Lantunan suci dari hati
Teruntuk yang kasih
Semesta bercerita bagaimana kita bicara
Melalui bahasa kalbu bahasa hati
Degup jantungku ikut bernyanyi
Menyanyikan lagu ketulusan
Bahwa engkau datang sebagai kasih
Kasih diujung gamangku

Mungkin sebait puisi tak cukup bicarakan kita
Tapi sepatah kata yang bernama kasih
Akan mengantarkan tiap bait ku kepadamu

Dedicated for IA

PELANGI

Di ujung mata bersinar
Sedalam derasnya mendung
Maha api yang sembunyi dibalik awan hitam
Sedang malu menampakkan diri
Sesampai pelangi datang membawa bidadari datang
Pelangi ini datang sendiri
Bukan pemberian bukan terkasih
Tapi dia tetap tegar berdiri
Menemani sang bidadari
Lembut kabut yang mengiringi
Tak semanis kecupan hujan pagi
Lihatlah pelangi tetap berdiri
Meski tempaan datang tanpa henti
Meski cinta tak lagi berseri
Meski dia dikhianati
Meski dia tak dikasihi
Dia akan tetap berdiri hingga pagi lagi.

Dedicated for IA

Sabtu, 24 Maret 2012

Bait-Bait yang Patah

Senja kali ini memancarkan rona gamangku
Yang sejak senja kemarin menepi di ujung perih
Mengingatnya membuat mata hatiku lara
Tak pernah kutulis untuknya sebait puisi pun
Tak pernah aku katakan bahwa dia yang terindah dalam hidupku
Tak pernah aku akui bahwa aku hancur berkeping ketika ada cinta lain
Sungguh
Aku berada dalam dua hati yang berbeda
Menebar kepedihan dalam hatinya
Maafkan aku
Ketika cinta lain hadir, aku jatuh terbuai
Ketika rayuannya begitu mempesona
Kamu pun lebur dalam kenistaan
Kini aku menyesal membiarkanmu terluka
Membiarkanmu semakin menjauh
Dan aku kini kehilanganmu
Inilah bait puisiku

Selasa, 20 Maret 2012

Langit


Masih belum lelah aku mengitari langit
Kemarin masih saja hitam
Hanya ingin menyampaikan kedukaan yang datang dikala jauh
Hanya ingin tersenyum saat dibalut rindu
Bukan..
Aku bukan rintihan ranting tergerus angin
Aku sebilah awan di cakrawala senja
Hendak pergi menuangkan kasih di sepanjang usia
Jangan..
Jangan pernah meninggalkan aku dalam sisi gelap
Berikanlah tiap madumu kepadaku
Berikanlah tiap sarimu kepadaku
Kelak akan kubuatkan secangkir kasih untuk kau minum

SEMBILAN

Sempurna itu sejauh mata memandang
Tak dekat juga tak jauh
Sembilan itu delapan langkah lebih dekat
Terkadang mudah terkadang sulit.
Ketika gunung-gunung akan tercerabut dari akarnya
Jangan takut, itu hanya ilusi.
Dan ketika pelangi bertengger gagah di langit
Jangan senang, itu hanya fatamorgana
Semua hanya tipu daya

Segitiga Atlantik

Buih ombak meliuk-liuk
Baru saja mengabarkan tentang masa
Bukan rindu memeluk pasir putih
Tapi rindu kepadaku
Pandangan tak mampu menembus batas antara langit dan lautan
Dan kuberikan rindu pada bayu
Mungkin dia akan datang ke tempatmu berdiri
Barat dan Timur
Dua tempat yang sangat jauh
Disanalah aku menautkan sinaran surya
Yang kelak akan mempertemukan kami
Pada satu tempat yang sama
Di dalam segitiga
Timur Barat Utara
Kamilah Segitiga Atlantik

Minggu, 18 Maret 2012

Bicaralah Kepadaku


Pagi tadi hujan datang lagi
Sementara tempatku berpijak kian terkikis
Angin yang menggelora mengurai kecantikanku
Aku bertahan berpegangan sekuat mungkin
Pada tanah yang kian basah
Pada pasir yang mengalir bersama air
Lihatlah
Sedikit demi sedikit auraku jatuh
Bicaralah kepadaku wahai langit
Kapan kau akan bertekuk lutut dihadapanku
Sedang aku hanya mampu menikmati sentuhanmu lewat luruhnya airmu
Aku tak punya sutra untuk kau sulam menjadi mega
Mendekatlah...akan ku beri kau segenggam manisku
Agar sedikit putihmu ku miliki selamanya.

Pagi 18 Maret 2012 Kost

Jumat, 16 Maret 2012

Semacam Rindu

Kemarin di balik senja kulihat langit yang masih sama sejak hari itu
Tetap bercerita tentangmu yang jauh dari pandanganku
Ingin ku tawar rindu dengan secawan madu yang kau kirim beberapa hari lalu
Tapi madu itu kini telah kering sejak kau memutuskan pergi lebih jauh
Mungkin ini adalah sebuah pertanda
Bahwa memang kita akan tetap jauh dan jauh meski aku berharap dekat
Hari ini bukanlah hari yang mudah ku jalani
Tanpa mu tanpa kita
Dan kenari pun berkicau mengabarkan purnama yang tak akan datang
Aku bertanya pada seroja dan dia memberiku setangkupnya
Bawalah..ini yang akan mempertemukanmu lagi dengan purnama
Ah..rindu..jangan kau semai terlalu lama dalam hatiku
Jangan membuatku semakin beku menanti cahaya hatiku
Dan aku pun lelap dalam dekapan bayu

Rabu, 08 Februari 2012

LAYAR BIRU


Di lembayung senja menari meliuk lemah gemulai
Aku terdampar di penantian tanpa ujung
Kemudian senada angin aku melangkah
Menjemput secuil impian yang sempat jatuh
Aku ingin pergi tanpa kedukaan lagi
Sedang di mega-mega putih ada harapan yang datang
Mungkinkah aku bisa mengejarnya
Kakiku telah lelah melangkah
Anganku telah putus asa
Bibirku telah kelu menahan senyum
Air mata tak mampu kubendung lagi
Dan akhirnya aku menyerah pada layar biru
Aku hilang

Sebuah kata di ujung senja. Kemarin.

Kamis, 20 Oktober 2011

Bukan Filsuf

Pagi ini aku menulis
Aku bukan seorang filsuf
Aku juga bukan pemberi nasehat yang baik
Aku hanyalah pewarta tulisan
Tak elok aku berbicara
Saat apa yang kulakukan tak demikian
Tak cukup rasanya hanya bicara tanpa berbuat



Kisah yang datang dan pergi 
Telah membawa arti dalam hidup
Bukan sebagai seorang filsuf dan bukan pemberi nasehat
Tapi sebagai penjalan takdir kehidupan



di Ruang Cinta 09.41

~ayo menulis karya sendiri, boleh copy paste jangan lupa cantumkan link di atas yea..thank you~

~~SALAM KASIH~~

Senin, 03 Oktober 2011

Terkadang Imajinasi

Canda. lelah. semangat semua menjadi satu
Aku sendiri terperangkap dalam jerat selimut mata 
Lekat,memerah dan tak bergairah
Duduk diam sambil menulis
Memikirkan bagaimana imajinasiku bisa datang di tengah rumbai-rumbai angin yang beku
Aku ingin datang membawa sekeranjang makanan dan duduk manis di bawah pohon beringin
Memetik bunga seroja untuk kusematkan di balik telingaku

Aku bermimpi



Tidur @Seminar Internasional 21 Juli 2011

GAMANG

Keriput di wajahnya kian menari-nari manja
Mata bak rembulan masih terang
Rembulan sedang bercermin di bola matanya
Senyum menawan bak bahtera di samudra
Menawanku dalam kegamangan
Aku mulai bimbang
Dalam penemuanku terhadapnya
Rasanya aku ingin tumbang
Bukan karena aku tak bisa memeluknya
Tapi karena aku tak bisa memilikinya

21 Juli 2011 Jogja @Seminar Internasional Matematika

Kamis, 18 Agustus 2011

Karena Kamu Sanggup Mendua

Pada malam lalu seperti pernah ku bercerita kepadamu, ada bait-bait yang hilang di antara kita.
Mungkin tak kau sadari bagian dari dirimu meninggalkan aku dalam sudut sepi.
Seperti bulan-bulan yang telah kita lalui tercerabut begitu saja menghantam bagai badai
Separuh hatimu telah berubah haluan, mencari kehangatan lain yang lebih sempurna.
Jangan mencoba mengatakan kau masih menyayangiku sedang tak pernah kau peluk aku lagi seperti dulu
Jangan pernah mengatakan kau masih menyayangiku sedang di matamu tak kulihat lagi sinar cintamu
Aku mengikhlaskanmu bahagia dengan pilihanmu
Meninggalkan aku yang dulu pernah kau buat bahagia dan bangkit dari keterpurukan hidupku
Cepat-cepat saja kau pergi agar aku tak merasakan pahitnya kebohongan yang kau beri
Kamu terlalu munafik untuk mengakui rasamu
Kamu terlalu naif mengakui kesalahanmu meninggalkan aku
Kemudian aku tersadar, kamu adalah milik-NYA
Sekuat apapun aku menghadangmu, kekuatan dari-NYA yang akan mengambilmu dariku.
Sudahlah...aku mungkin tak sanggup untuk menyakitimu
Teruskanlah sesuka hatimu membuatku menderita sepanjang waktu
Karena aku yakin, DIA selalu bersamaku meski kamu tak bersamaku.

00.36...I'm feeling lonely... :((((

Kamis, 28 Juli 2011

di dalam ruang-Mu

Aku terbangun di keheningan pagi-Mu
Menyusuri ruang rinduku pada-Mu
Semilir bayu meneguhkan niatku
Untuk bercengkrama dengan-Mu
di Subuh-Mu yang anggun
Ku tautkan harapan penyejuk kalbu
Penguat iman
Penyelaras hati
Agar tetap dalam samudra ke-Illahian-Mu

Kamis, 14 Juli 2011

Hanya Untukmu

Sebiduk sedayung sehelai
Pada masanya akan lepas dari tuannya
Pada masanya akan lepas dari bahteranya
Pada masanya akan lepas dari benangnya
Aku yang diam dalam manis kesunyian
Kemudian berpikir, bernalar, berirama
Memikirkan apa yang aku alami sepagi ini
Menalarkan apa yang harus ku pahami dari semua ini
Kemudian setelah aku tahu bahwa ini melukaiku
Aku beirama menyenandungkan lagu penyejuk kalbu
Agar sirna duka laraku
Agar habis tetes air mataku
Dan ku ganti dengan senyuman terindah
Senyuman manis dan bahagia
Senyuman yang datang dari ruang hati
Senyuman tulus
Adhek pada Kakaknya
Pada Kakak yang sangat di sayanginya
Pada Guru yang mengajarkan arti ketulusan
Pada Mentari yang menyinari kegelapan

Rabu, 22 Juni 2011

Detak Puisiku

Pada sang bayu aku bercerita, tentang kabut tebal di antara kita
Pada rembulan aku mencurahkan, tentang gelapnya malam di antara kita
Apakah tak kau dengar, puisiku berdetak dari jantung
Mengalir bersama kepingan-kepingan sel darah merahku
Bergumul dengan bau kecut keringatku
Menerobos celah di antara kelopak mataku
Setiap detik berjalan tanpa memberiku kesempatan
Kesempatan yang sama seperti dulu
Akui saja
Darah kita tak lagi sama
Airmata kita sudah berbeda
Darahmu sekarang untuknya
Airmatamu membanjir juga untuknya
Sudah kau tiadakan aku sebelum aku tiada
Sudah kau buang aku padahal aku masih dalam dekapmu
Bagaimana aku dapat melewati terjalnya jalan yang kau buat
Bagaimana aku dapat menghilangkan luka yang kau iris di ulu hatiku
Hanya kenangan yang membuatku bersabar
Hanya masa-masa sebelum saat ini yang aku ingat
Aku mencoba menghadapi ini dengan kepasrahan
Bahwa
Kasih sayang dan cinta itu tidak bisa dipaksakan