Senin, 01 Oktober 2012

Senja Pelangi

Lembayung membuncah mengaburkan putih langit
Memerah berangsur-angsur jingga
Hitam legam cakrawala sirna
Aku selalu melihat batas senja
Seperti usiaku yang semakin menua
Gerimis sepagian tak hendak pergi
Senja menguncup di ufuk barat
Aku berdecak
Tak ku lihat lagi binar pelangi di kedua bola matamu
Dia bosan mendua
Hingga dia kembali pada langit
Tempat yang tak pernah kau sadari dia akan pergi.


Kost, 11:38 wib 01 Oktober 2012.

Saat senjaku tak jua tiba

Jumat, 28 September 2012

Elegi Pagi

Pagi meniupkan bening embun
Merasuk hingga buritan kecubung

Tanah masih basah sisa hujan tadi malam

Rerumput bercerita akarnya semakin rapuh
Tak lagi mampu menampung luapan sungai rindu
Padahal jarak tidaklah membentang
Menuai kesakitan pada kedamaian
Tiap perbuatan pasti ada balasan
Tidak sekarang tapi kelak
Jangan buang gemuruh cinta
Dia datang sebagai penguji iman.


Selasa, 11 September 2012

Sekedar Tulisan

Pagi yang indah tetiba ingin sedikit mengoceh demi untuk menyemarakkan pagiku sendiri. Hanya mengingatkan diri sendiri untuk selalu menghargai orang lain, memberi kesempatan orang lain untuk memahami kita, memberi waktu untuk kita memahami orang lain. Hal sepele tetapi sangat sulit dilakukan. Kebanyakan dari kita adalah pribadi yang memenangkan diri sendiri atas pendapat orang lain. Jadi setiap dari kita cenderung lebih menerima pendapat kita daripada pendapat orang lain yang tentu berbeda dengan kita. Kita mungkin tidak sepenuhnya bisa memahami tiap perbedaan, tetapi berusaha untuk mencobanya itu adalah kemajuan dalam diri kita yang patut diapresiasi. Bagaimana kita mengapresiasi tiap hal yang bertolak belakang dengan keinginan kita tetapi kita berhasil melakukakannya? Adalah dengan memberi reward pada hati kita sendiri, mengucap syukur kepadaNYA dan dengan hati yang bangga senyum pasti akan terkembang kemudian aura akan semakin memancar. Apa yang kita peroleh dari itu semua? Penghargaan orang lain terhadap kita. Itu sudah lebih dari cukup untuk pribadi kita yang senantiasa mendambakan sebuah pengakuan.

Rabu, 05 September 2012

Coretan Tanpa Arti

Malam ini masih seperti malam-malam kemarin, suatu hal yang biasa saat keinginan terkadang harus terpendam. Setiap hari tumbuh tunas baru, semakin tinggi dan tinggi hingga tak cukup lagi tanganku menggapainya. Adalah waktu yang terlewati tanpa kesia-sia an, dan sebuah keputusan harus segera di keluarkan. Anggaplah bahwa tidak ada kehidupan didekatmu, maka akan kau sadari bagaimana rasanya hidup tanpa seseorangpun yang menyayangimu, memperhatikanmu, mengingatkan waktu makan, mengingatkan saat istirahat, memberikanmu sedikit pelukan hangat. Terkadang hal-hal kecil seperti itulah yang akan mengingatkan seberapa penting orang yang berada di sekitar kita. Meski kadang kita egois, ingin mendapatkan perhatian semua orang dan orang-orang itu lupa ada kita disini sendiri, selalu ada seseorang yang dengan setia akan menemanimu dalam keadaan apapun. Jangankan hujan, badai pun akan dia lewati demi memberikan arti hadirnya kepadamu. Sekecil apapun kau menganggapnya akan menjadi obat dahaga yang luar biasa baginya. 
Luar biasa memang efek samping menyayangi seseorang itu. Apapun yang terlihat tidak sempurna kemudian menjadi sempurna. Apapun yang terlihat buruk dimata orang lain tetap akan terlihat indah dimata seseorang yang sedang dimabuk kasih sayang. Serbuk-serbuk kebencian ataupun ketidaksempurnaan akan terbang disekitar orang-orang yang sebelumnya. Tidak heran jika apapun yang disukai siapapun yang kita sayangi maka kita akan menyukainya juga. Tapi terkadang kita terlalu munafik untuk mengakui bahwa kita sedang dilanda cinta, dilanda rindu, kita lebih banyak fokus pada "sebuah alasan" untuk tidak mengakui keberadaan orang baru dalam hidup kita demi untuk menghargai orang lama atau bahkan tidak ingin membuatnya merasa di anaktirikan. Pengertian itulah kemudian yang akan membentuk pribadi seseorang, apakah dia akan bertahan menjadi seorang pembohong atau seorang yang dengan legawa mengakui kecintaannya. Kesetiaan apa kabarmu? begitulah aku bertanya pada leluhur jiwaku, tidak banyak yang kudapat tapi intinya, selalu setia itu ada baik dan buruknya. Baiknya adalah kita akan bangga dengan apa yang telah kita capai dan buruknya adalah sebuah dominasi hubungan. Ah..terlalu mbulet ketika saya harus berbicara tentang ini. Dan kesimpulannya adalah setiap orang memiliki kondisi dimana dia ingin merasa diperhatikan, disayangi, diutamakan tapi dibalik itu semua di sisi lain kita juga harus ingat bahwa setiap orang memiliki dirinya sendiri. Dia berhak ingin bersama siapa atau ingin berbuat apa, karena setiap pribadi pasti akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Demikian coretan malam ini. Sebarkan cinta kasih :*.SALAM

Senin, 06 Agustus 2012

REJAPATI

Suatu hari aku bertanya kepada angin
Dimana aku dapat menemukan bunga laraswarni
Angin berbisik menggelitik kupingku
Di kedalaman sebuah telaga yang dikelilingi rejapati
Aku bertanya kembali
Apakah rejapati itu wahai angin?
Dia adalah sukma yang dibuang tanpa tujuan
Melindungi telaga dari keserakahan manusia
Kepada rejapati lah laraswarni akan kau petik
Winar..jangan lupa bawakan secangkir madu dan darah untuk memberi dia makan
Aku terhenyak..
Sedang darahku telah habis di bukit lontar
Kujadikan tumbal untuk masuk gerbang Majaijo
Winar..tidakkah kau sadari kau adalah rejapati
Bisik angin kepadaku..
Aku limbung.