Jumat, 28 Januari 2011

Aku Ingin Menjadi Yang Terbaik

Pertengahan tahun 2006 yang tak begitu indah. Ku terima keputusan bapak yang tidak akan mengijinkan aku  kuliah di STIS, setidaknya aku nekat untuk ikut tes di Surabaya dengan biaya sendiri dan kemudian aku tahu aku akan gagal pada tes tahap pertama. PMDK pun aku yakin akan ditolak, karena memang restu bapak tidak masuk dalam amplop identitas diri yang ku kirim ke UNS. Seperti gunung Merapi yang siap meletus, aku sangat marah pada bapak, kupaksakan tersenyum, tertawa lepas dan di sisi lain hatiku menangis melihat kawan-kawanku berbahagia setelah pengumuman PMDK, SPMB, dan Tes mereka diterima. Aku bahagia tapi aku juga iri, sempat berpikir untuk membenci bapak selamanya dan itu tidak terwujud sampai sekarang, karena setelah euphoria penerimaan mahasiswa baru di Universitas negeri usai, aku kemudian berpikir untuk menuruti apa kata bapak. Biarlah aku tidak kuliah di UNS atau STIS bahkan STAN, asal aku bisa memuaskan kehendak bapak, dan setelah kuniatkan untuk bersungguh-sungguh mendaftar, aku tetap saja sendiri. Rupanya bapak hanya mempunyai kehendak tanpa tahu harus berbuat apa. Sejak saat itu pun aku benar-benar lepas dari genggaman bapak. Menyisihkan uang pemberian ibu untuk kehidupan sehari-hari di Kota Trenggalek. Hanya beberapa kilometer dari kota kecamatan Panggul tempat bapak dan ibu tiriku tinggal. Aku lahir di Trenggalek, TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah pun di Trenggalek. Dan aku menerima dengan lapang dada bahwa aku hanya anak seorang Penjual es lilin yang tak akan bisa kuliah dengan orang-orang kaya. Kujalani tiap hari dengan mengurung diri di kamar kost, aku malu pada mereka. Aku yakin aku bisa tapi keinginanku dipatahkan oleh ketidakmampuan orangtuaku. Aku ingat saat aku dinobatkan menjadi pelajar teladan SMP tingkat Propinsi betapa bapakku senang dan berjanji akan menyekolahkan aku kemanapun  aku mau. Setiap bapak menerima rapor dari guruku sejak kelas 1 SD sampai kelas 3 SMA di kolom Juara pasti tertera angka 1.dan kini aku hanya teronggok di sekolah yang sangat biasa ini. Aku tidak akan berkembang disini, aku hanya ingin gelar saja, aku sudah tidak punya semangat belajar lagi. Sampai suatu hari aku menemukan buku usang di perpustakaan kampus yang sangat tidak terurus. “Great Man and Great Financial” setiap menjelang tidur kubaca buku yang setebal es lilin buatan bapak. Aku mulai suka menyendiri di kamar dan memikirkan apa yang aku dapat dari buku itu. Kutawarkan pada diriku untuk maju dan rupanya dia tidak  menolak. Semangatku kembali lagi dan tak kuhiraukan lagi surat-surat yang dikirim bapak untukku. Kubiarkan kertas-kertas yang berisi tulisan bapak itu berserakan di laci meja belajarku.
Matahari sore membenamkan langit dalam remang-remang cakrawala. Sudah beratus-ratus buku aku tata di rak buku. Aku asyik dengan buku-buku lawas di perpustakaan kampus. Aku ingin mengubah perpustakaan ini menjadi lebih indah. Kupisahkan setiap kategori agar nanti teman-temanku mudah mencarinya ditempat yang telah aku tulisi Fiksi, Ilmu Pendidikan, Referensi, MIPA dan sebagainya beserta catalog yang telah aku susun rapi di laci. Lorong kampus sunyi setelah beberapa jam yang lalu teman-temanku pulang dengan membawa tanda tanya, mungkin, kemana Ridwan gerangan, mahasiswa yang selalu datang telat dan duduk paling belakang dengan membawa buku di tangan kirinya? Ya aku kidal. Apa pun aku pegang dengan tangan kiri, bawaan dari lahir kata bapak. Aku lelah dan ingin tidur malam ini.
Dua minggu yang lalu ketika aku datang ke tempat ini, tiada satu orang pun yang mau menginjakkan kakinya di lantai ubin ruangan pengab perpustakaan kampusku. Kini setelah aku percantik dengan aneka tulisan penyemangat juga buku yang tertata rapi mereka datang dengan sendirinya. Rektor dan dosen pun kini mulai sering ke perpustakaan untuk membaca Koran atau sekedar melepas penat setelah mengajar. Mereka memutuskan untuk membebaskan biaya sekolahku juga memberiku pekerjaan baru sebagai penjaga perpustakaan yang di gaji, dan gajiku cukup untuk kehidupanku selama satu bulan. Sampai aku menerima gaji bulan berikutnya. Rupanya inilah keadilan yang Tuhan berikan, saat aku terpuruk didatangkanlah kemudahan bagiku.
Peristiwa itu sudah 15 tahun yang lalu, kini aku bersama istriku mempunyai Toko Buku yang cukup laris di Trenggalek dan Pusat Jajajan anak, termasuk di dalamnya ada es lilin buatan bapakku. Aku juga telah menjadi salah satu Dosen tetap di Kampus ku dulu. Sungguh nikmat Tuhan serasa menimpaku terus. Terima kasih Tuhan juga bapak dan ibu kandungku.
                                                                                              Fla, 27 Apri 2010
                                                                                              Kost in 11.25 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan cik-cik dan uncle-uncle yang mau bercomment...Ana tunggu ya comment-nya...^__^