Senin, 31 Januari 2011

Gila


Mengawali cerita ini terangkai kata-kata pujangga, hidup itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Perceraian kedua orangtuaku telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hatiku. Pernah mencobakan berbagai pemutus tali kehidupan sebagai rangkaian protes kepada Tuhan. Semua itu gagal karena sang Malaikat pencabut nyawa sedang cuti dari pekerjaannya, sehingga untuk beberapa saat proses pengambilan nyawa terhenti. Kekecewaanku pada Tuhan pun tak berhenti di situ saja, ibadah harian kutinggalkan, melakukan apapun yang dilarangNya. Tapi rupanya seolah tidak peduli dengan protesku Tuhan menambahkan cobaannya padaku, Dia memutus mata pencaharianku, memutus aliran dana penghidupanku. Peristiwa seperti itu tak membuat aku sadar bahwa aku telah diperingatkan, kebrutalanku menjadi-jadi, obat terlarang menjadi pengantar tidurku, wanita-wanita cantik menjadi teman sekamarku. Huff…bosan kataku, ingin kunikmati hidup ini. Ingin kuhabiskan hidup ini dengan bersenang-senang saja.
Apa peduliku dengan orang lain? Saat kujumpai nenek renta seorang pengemis kulewatkan saja, kutendang jika ada ibu yang menggendong bayinya meminta sedekah padaku. Pikiran jahatku berkata “aku lebih menderita daripada kamu, dasar orang malas!!!”,kucaci maki orang yang berani mengingatkanku, semua kata-kata yang keluar seolah begitu saja meluncur tanpa ada rem nya. Selama beberapa tahun aku bergumul dengan berbagai hal yang berbau anyir darah kejamnya kehidupan yang semakin kubuat rumit. Tiap jam di hari-hariku ku menatap nanar ke depan “apa yang aku cari selama ini? Adakah yang peduli padaku?”. Sedangkan kedua orang tuaku sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Bapakku pensiunan jenderal, tapi kini jadi pengusaha batik yang mempunyai banyak wanita idaman diluar, ibuku seorang pengusaha produk-produk kecantikan yang kata bapak juga punya pria idaman lain di luar negeri. Perceraian adalah jalan terbaik bagi mereka, dan aku lah yang sekarang menanggung semua dosa mereka. Seolah tak pernah lepas dari penderitaan, kunikmati deritaku ini dengan semua yang membuatku puas.
Hingga pada suatu waktu aku bertemu seorang gadis yang sangat cantik menurutku. Penjual pecel lele dan tiwul Khas Pacitan begitu kubaca label yang terpampang dipinggir jalan Slamet Riyadi. Kunikmati tiap butir nasi tiwulku dengan mata yang tak pernah lepas dari dagu manisnya.Setiap tatapan matanya membuat jantungku seolah ingin lepas dari katupnya. Oh…tak dapat kutahan rasa ini. Kepiawaiannya dalam melayani pembeli membuat aku kagum. Rambutnya yang terurai panjang menambah kecantikannya,  ketika dikuncrit pun kelihatan keningnya yang lebar. Kulitnya putih, kukunya bersih, uhhhh..aku jatuh cinta? Dia sangat sempurna. Sedangkan aku sebaliknya,sejak jadi pengacara alias pengangguran banyak acara penampilan tak pernah kuperhatikan, bahkan untuk sekedar meni pedi di salon, sudah tidak punya uang ceritanya. Ah, kau membuat aku menjadi tergila-gila, tergila-gila untuk memperpatut diri, memakai baju yang bersih, bersepatu dan memakai parfum Axe.
Dua minggu ku lewatkan makan malam dengan nasi pecel buatanmu, mesti kadang paginya harus bolak-balik ke kamar mandi karena sambal pecel yang luar biasa pedas, tapi aku rela kok. Memang cinta telah membuat aku jadi mati rasa sakit, yang ku ingat hanya kamu duhai seseorang yang belum ku ketahui namanya. Dari 24 jam yang disediakan Tuhan dalam satu hari untukku, setengahnya ku gunakan untuk memandang fotomu, hasil jepretanku tanpa mengajukan proposal kepadamu, ku bawa kemana pun aku pergi.
Hari ke- 33 di warungnya, akhirnya kuberanikan bertanya nama. Sulastri namanya, Su kata depan lastri semacam abadi atau lestari. Jadi pelanggan tetap membuat Sulastri juga hafal padaku, meski masih beberapa meter dari warungnya, bau parfum Axe ku menyebar kemana-mana, termasuk nancep di hidung Sulastri. Begitu aku duduk, pecel sudah di depan ku. Ah, kau pengertian sekali, pikirku. Besok aku mau datang membawa serta bapak ke warung ini.
Pacitan lembab, hujan yang mengguyur seharian membuat warung-warung laris kecuali warung Sulastri. Hujan-hujan makan pecel memang ga enak. Tapi ku paksa bapak ke tempat Sulastri. Pengen nglamar dia (huh,aku deg-degan). Dengan langkah yang gontai bapak berjalan disampingku, mungkin masih penasaran aku mau membawanya kemana. Hingga dua meter dari warung Sulastri, bapak terkesiap, menghentikan langkah dan memutar badan. Ku tahan, dan mengajaknya masuk ke warung Sulastri. Mata mereka bertemu, dan yang ku dengar adalah petir..”Mas, kok ga bilang mau kesini”. Nanar dan semua telah bersimbah darah. Pisau di tanganku lepas setelah aku tahu, wanita yang kucintai mati ditanganku. Sulastri istri ke-3 bapak.
Ah, belum bisa tidur, dua bulan lalu aku masuk bui karena membunuh. Kini kata orang-orang aku gila padahal aku baik-baik saja. Loh Sulastri kenapa ada di bui juga?

Kost, Original by Tunjung G. 02.44 (Menjelang Qiyamul Lail, semoga do'aku dikabulkan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan cik-cik dan uncle-uncle yang mau bercomment...Ana tunggu ya comment-nya...^__^