Jumat, 11 Maret 2011

Jaidi Suamiku


Sudah sangat lama hingga aku tak dapat mengingatnya lagi, kapan. Saat itu dengan langkah gontai kau berjalan ke arahku. membawa selembar kertas bertinta darah. Ku baca dengan perasaan campur aduk

"Aku Menunggumu di Tempat Tidurku: Sulasmi"


Aku bertanya-tanya dalam hati "siapakah Sulasmi". Wajahnya penuh peluh dan rasa takut yang luar biasa. Dengan sedikit bergetar ku beranikan bertanya..Sebenarnya ada apa??? Masih diam dengan kebisuannya. Seolah tak mendengar apa yg ku tanyakan, seolah dia berada di ruang dimensi yang lain. Tak bergeming. Akhirnya aku pun pergi merebahkan diri di pembaringan. Lelah menunggunya bicara.

Malam hari menjelang pagi, ku dengar dia berteriak-teriak memanggila sebuah nama SULASMI lagi...sudah 2 Bulan 2 hari...setiap malam.
Ku peluk tubuhnya saat dia menggigil dengan bercucuran keringat. Setiap malam pula pelukanku di buangnya hingga aku terjatuh kemudian terseok-seok  menuju dapur untuk mengambilkannya air dari Pak Wongso. Sesaat bisa tidur, tapi Subuh sudah menggema. Lelah dengan kebisuannya.

Rantai itu telah melukai kaki dan tangannya. Pagi ini ku siapkan Nasi liwet kesukaannya di piring plastik bekas tempat makan si Manis, karena piringku sudah habis di tendangnya. Ah. sayang..kenapa semua jadi begini?Kenapa matamu nanar jika melihat ku?ada apa denganku?
Kuhalau pikiran itu dan aku pun pergi ke perkebunan. Menggantikan pekerjaannya sebagai pemetik kelapa sawit.

Di perkebunan ku urai buah kelapa sawit satu persatu. Tak kusadari pak Mandor telah dibelakangku. Disodorkannya uang yang belum pernah aku lihat, 5 Juta. dan sambil berbisik di meletakkannya di tanganku.

Senja telah meremang dikejauhan, kulangkahkan kaki menuju rumah. Matanya nanar, entahlah. Ku kemas bajuku seadanya dan pergi meninggalkannya sendiri. Menjadi ISTRI Mandor Sastro.

Beberapa minggu ku dengar dari pelayanku, dia melihat Jaidi tewas dengan menancapkan paku diperutnya sendiri saat mengantar ransum makan siang. Ku dengar kasak-kusuk tetangga bahwa Jaidi bunuh diri karena di Hantui SULASMI istrinya di Jawa yang selalu berada di balik punggungku jika aku mendekati Jaidi.


Ah......


Kost, 17 Oktober 2010...Saat sendiri menanti cerahnya mentari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan cik-cik dan uncle-uncle yang mau bercomment...Ana tunggu ya comment-nya...^__^